Apa Kata Mereka Tentang Simalungun :

Persamaan dalam Bahasa Simalungun-Toba-Karo

“Beberapa kata dalam bahasa Simalungun memang memiliki persamaan dengan bahasa Toba atau Karo yang ada di sekitar wilayah tinggalnya suku Simalungun, namun menurut Pdt. Djaulung Wismar Saragih banyak kata yang penulisannya sama dalam bahasa Simalungun dan Toba namun memiliki makna yang berlainan.” – J Wismar Saragih, dalam “Hata Toba pakon Hata Simaloengoen na Dos Tapi Legan Anggo Artini,” Sinalsal No.52, edisi Juli 1935, hlm.7-10.

—-

Pemuda dan Budaya Simalungun

“Minat pemuda Simalungun untuk belajar budaya Simalungun kini jarang ditemukan. Untuk melestarikan budaya tradisional Simalungun, perhatian Pemerintah Kabupaten Simalungun masih minim.” – L Saragih (Pengrajin Alat Tradisional Budaya Simalungun “Anjuau”, Pematang Raya, sejak tahun 1958 menggeluti pembuatan ukir-ukiran Budaya Tradisional Simalungun), dalam Siaran Ragam TV Indosiar: Budaya Seni Simalungun Punah di Negeri Sendiri.

—-

Posisi Bahasa Simalungun Diantara Bahasa lainnya

“Kelima suku Batak memiliki bahasa yang satu sama lain mempunyai banyak persamaan. Namun demikian, para ahli bahasa membedakan sedikitnya dua cabang bahasa-bahasa Batak yang perbedaannya begitu besar, sehingga tidak memungkinkan adanya komunikasi antara kedua kelompok tersebut. Bahasa Angkola, Mandailing dan Toba membentuk rumpun selatan, sedangkan bahasa Karo dan Pakpak Dairi termasuk rumpun utara. Bahasa Simalungun sering digolongkan sebagai kelompok ketiga yang berdiri di antara rumpun utara dan rumpun selatan (demikian juga pandangan Dr. P. Voorhoeve), namun menurut ahli bahasa Adelaar (1981) secara historis bahasa Simalungun merupakan cabang dari rumpun selatan yang berpisah dari cabang Batak Selatan sebelum bahasa Batak Toba dan Angkola-Mandailing terbentuk.” (Dr. Uli Kozok)

———-

Contoh Bahasa Tinggi di Simalungun

Di Simalungun terdapat bahasa tinggi — mirip dengan bahasa Jawa Ngoko dan Jawa Inggil pada etnis Jawa — yang digunakan terhadap raja. Ini disebabkan struktur masyarakat Simalungun yang “monarki feodalistis”.

Ini contoh dari “Pustaha Parpandanan Na Bolag, “Ou, amang umbei-umbei, pardja do lai ham?” Marsampang homai ma guru ondi, “Ou amang pardusun, ulang ihatahon ham au amang umbei-umbei, dong do lai goranku Guru Langgam Banua Holing, hunjai ni Si Lindung do anggo ahu, hun tanoh Batang Toru, jayu silopak ulu, dapot do hubahen mardaras mardorus bulungni torop salih menjadi begu.”  – Hampir tidak dapat dimengerti bahkan oleh orang Simalungun biasa!

——-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s