Tarian “Toping-toping/Huda-huda” di Simalungun

KBSI_tarian_toping2

 

KONON di zaman dahulu kala pada masa pemerintahan feodal di Simalungun, seorang puang bolon ditimpa kemalangan. Anak yang dikasihinya  yang merupakan anak tunggal pewaris kerajaan meninggal dunia, Akibat dari kecintaan permaisuri kepada putranya dan tidak ingin berpisah permaisuri tersebut  tidak rela anaknya dimakamkan dan terus menyimpan  anaknya hingga berhari-hari. Proses pembusukan dari tubuh pangeran tersebutpun terjadi dan bau mayat yang menyengatpun sudah melingkupi istana dan tercium sampai ke kediaman penduduk.

Penghuni istana serta penduduk pun terusik dengan keadaan yang tidak nyaman itu dan ingin berbuat sesuatu membujuk sang permaisuri agar rela putranya dimakamkan. Berbagai cara sudah dilakukan dari dalam lingkungan istana, namun permaisuri tidak mengindahkannya dan tetap bertahan agar putranya tidak dikebumikan.

Hingga di suatu ‘talun’ sekelompok laki-laki yang sedang martambul sambil meminum tuak turut prihatin akan keadaan tersebut. Talun adalah sebuah gubuk di tengah hutan yang berfungsi sebagai tempat menampung dan memasak air aren (tuak) untuk membuat gula merah atau gula aren. Saat itu, di talun sedang berlangsung acara memasak binatang hasil buruan mereka. Salah satu binatang buruan itu adalah burung enggang.

Masalah ketidaksediaan permaisuri melepas mayat anaknya untuk dikebumikan menjadi topik pembicaraan mereka. Inti dari pembicaraan adalah , bagaimana caranya agar permaisuri mau melepas mayat anaknya yang sudah membusuk  untuk dimakamkan.

Alhasil, salah seorang dari mereka memiliki ide. Membuat pertunjukan lucu di depan sang permaisuri,sampai perhatian permaisuri teralihkan sementara waktu dari putranya dan mereka bisa menguburkannya walau tanpa ijin dari puangbolon.

Usai martambul, salah seorang diantara mereka memperhatikan sisa-sisa peralatan dan makanan yang mereka buru. Sisa daging enggang paruh dan tulang lehernya yang tidak mungkin di konsumsi dicoba dikenakan di kepala salah seorang dari mereka. Secara reflek mengundang tawa !. Maka ide lain pun muncul beriringan . Pelepah pinang yang biasa mereka gunakan tempat  mencuci tangan diukir sedemikian rupa menjadi topeng manusia berwujud laki-laki dan perempuan yang ditempah agar terlihat menarik dan mengundang tawa, kemudian ide menari dengan gerakan khas Simalungun agar suasana semakin meriah semakin memantapkan ide menghibur puang bulon.

Setelah topeng berhasil di buat terjadi perdebatan siapa yang akan melakukan tarian yang mengundang tawa di depan puangbolon alasannya, apabila ada orang yang tau siapa di balik topeng tersebut maka mereka pasti dihukum, tidak tanggung tanggung nyawa adalah hukumannya.

Kemudian sembari minum tuak muncullah ide agar tubuh mereka disamarkan, yang memakai paruh burung enggang tadi seluruh mukanya akan ditutup dengan kain,  dan dikepalanya dikenakan paruh dan kepala enggang serta di buat ekornya dengan memakai rotan. Dua orang lainnya yang menggunakan topeng dari pelepah pinang tadi dan  tubuhnya ditutup dengan kain ataupun pakaian.

3 orang menjadi pelakon dari ide yang lahir dari kegelisahan akan keadaan kerajaan yakni tarian lucu dengan gerakan tarian khas Simalungun dengan menggunakan topeng agar identitas mereka tidak di ketahui.

Setelah semuanya dipersiapkan dan mereka yakin pertunjukkan itu akan menarik perhatian puang bolon, ketiganya berangkat memasuki kawasan rumah bolon.

Singkatnya, mereka menari di halaman dan menarik perhatian penghuni rumah bolon termasuk puang bolon, ketika puang bolon keluar dari kamar dan menonton tarian unik tersebut dan meninggalkan   putranya maka salah seorang dari penari tersebut masuk ke rumah bolon dan mengambil jenajah putra mahkota serta membawanya ke hutan lalu menguburkannya.

Sejak itu, persoalan dari keluarga kerajaan dapat diselesaikan tanpa seorangpun mengetahui orang yang ”mencuri” dan meguburkan mayat putra raja tersebut Pada perkembanganya setelah berhasil mengubur anak raja para penari toping-toping yang tidak di ketahui orangnya dapat berbuat bebas di wilayah kerajaan, mereka kadang mencuri telur untuk konsumsi mereka dan bukan untuk dijual dan hal tersebut tidak di larang oleh para penduduk sebab raja sendiri yang melindungi kebebasan mereka akibat jasanya terhadap kerajaan.

Namun dewasa ini tarian toping-toping pasca runtuhnya kerajaan kerajaan di Simalungun tarian toping-toping di peruntukkan kepada masyarakat Simalungun yang meninggal sayur matua, jika kita melihat tarian toping-toping dan memperhatikan asal usulnya maka fungsi utama tarian toping-toping adalah hiburan dan hiburan dalam hal ini adalah untuk mereka yang berduka.

Seperti yang di pertunjukkan oleh Ikatan Mahasiswa Simalungun Universitas Sumatera Utara dalam Festival Danau Toba dengan arahan dari seniman Simalungun Drs. Setia Dermawan Purba Tambak, M.Si. Para pemain toping-toping dalam karnaval hari kedua pelaksanaan Festival danau toba di iringi musik dengan memakai gonrang sidua-dua yang terdiri dari: satu buah sarunei bolon, dua buah gonrang, dua buah mongmongan dan dua buah ogung.

552a6db26ea83442658b4568

Enter a caption

Foto diambil pada festival danau toba 2013 di Bukit beta Tuk tuk, Samosir Sumatera Utara

Pemain seperangkat gonrang sidua-dua terdiri dari lima orang, yaitu: satu sebagai peniup sarunei bolon, dua orang sebagai penabuh gonrang, satu orang penabuh mongmongan, dan satu orang penabuh ogung.

552a6db36ea83442658b4569

Enter a caption

Foto diambil pada festival danau toba 2013 di Bukit beta Tuk tuk, Samosir Sumatera Utara

Gual yang ditampilkan dalam mengiringi huda-huda/toping-toping adalah sebagai berikut:

1. Gual khusus untuk mengiringi huda-huda/toping-toping , yaitu gual huda-huda.

2. Gual tambahan untuk mengiringi huda-huda/toping-toping antara lain: gual parahot, gual rambing-rambing, gual imbo manibung, gual sombuh atei ni hudan,

Ikatan Mahasiswa Simalungun Universitas Sumatera Utara dengan arahan Bapak Drs. Setia Darmawan Purba M.Si  telah melakukan beberapa perubahan dalam tarian toping-toping, namun tidak lari jauh dari esensi tari tersebut diciptakan oleh leluhur Simalungun. Tarian toping-toping pernah  di tampilkan Ikatan Mahasiswa Simalungun Universitas Sumatera Utara di atas pentas dan bukan dalam konteks upacara sehingga sudah pasti terjadi perubahan fungsinya dari menghibur keluarga kerajaan yang berduka menjadi menghibur khalyak umum, dan pernah  para pemain di turunkan dari pentas untuk berinteraksi dengan para penonton maka fungsinya beruabah juga menjadi pencarian dana tambahan , setidaknya hal tersebut lebih di terima logika daripada dengan cara toping-toping dahulu kala dengan mencuri telur dari Sakkah penduduk.

Beginilah seharusnya seniman Simalungun dan juga seniman etnis lainnya yang mendiami indonesia bertindak, kreatifitas dan modifikasi tanpa meninggalkan makna dari tari tersebut. Pengenalan budaya kepada anak cucu harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah, sebab budaya lokal di indonesia adalah kekuatan dari Indonesia.

Dengan semakin mengglobal nya manusia akibat kemajuan informasi yang sangat cepat maka fenomena budaya pop sulit untuk di hindari,  maka pemerintah harus mengutamakan penguatan budaya lokal yang sangat unik untuk “dijual” sebagai warisan indonesia yang tidak akan habis seperti emas di papua kepada dunia.

puang bolon = permaisuri

rumahbolon = istana kerajaan

martambul = makan bersama hasil buruan biasanya di panggang

sayur matua = meninggal dunia dengan anak anaknya sudah menikah semua

sakkah = tempat ayam bertelur dan mengeram biasanya terbuat dari anyaman bambu dan di lengketkan dengan cara di ikat di tiang gubuk tempat menyimpan kayu bakar

gual = jenis musik simalungun dari gendang

sarunai bolon = serunai

gonrang = gendang mongmongan = sejenis gong ukuran kecil

ogung gong = ukuran besar

dihar = nama olahraga beladiri simalungun

Terimakasih kepada Fredy Girsang (pandihar muda simalungun)  dan Bapak Setia Dermawan Purba untuk wawancaranya.

Sumber: Jan Roi Purba, “Toping-toping/Huda-huda”, Kompasiana 11 September 2013